infomalangcom – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi siswa.
Di SMP Negeri 1 Sumberpucung, Kabupaten Malang, sisa makanan dari program tersebut menjadi bagian dari inovasi pengelolaan lingkungan.
Guru di sekolah itu mengembangkan Smart BSF Eco Edu, sebuah aplikasi digital yang dipadukan dengan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).
Inovasi Smart BSF Eco Edu di SMPN 1 Sumberpucung
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Neni Fitriawati, guru SMP Negeri 1 Sumberpucung.
Berdasarkan laporan TIMES Indonesia, aplikasi ini dirancang untuk mendukung edukasi sekaligus memantau proses budidaya maggot di lingkungan sekolah.
Gagasan tersebut berangkat dari adanya sisa makanan setelah siswa mengonsumsi menu MBG.
Di sekolah tersebut, sampah organik tercatat rata-rata sekitar 30 kilogram per hari. Sisa makanan itu kemudian dikumpulkan dan dimanfaatkan sebagai salah satu sumber pakan untuk budidaya maggot BSF.
Menurut Neni, pengolahan tersebut ditujukan agar sisa makanan tidak langsung berakhir sebagai sampah.
Program ini juga menjadi cara untuk mengenalkan kepada siswa bahwa limbah organik dapat dikelola kembali dan memiliki manfaat apabila ditangani dengan tepat.
Sisa MBG Diolah Menjadi Pakan Maggot
Proses pengelolaan dimulai dari pemilahan sisa makanan organik.
Baca Juga : SMPN 1 Singosari Dapat Tambahan Fasilitas Belajar, Bupati Sanusi Beri Dukungan
Setelah dikumpulkan, material tersebut disalurkan ke wadah perkembangbiakan maggot BSF atau Smart BSF.
Data mengenai sisa makanan kemudian dimasukkan ke dalam aplikasi digital.
Tahap berikutnya memanfaatkan sensor Internet of Things (IoT) berupa thermostat untuk membantu mengontrol kestabilan lingkungan reaktor. Sistem tersebut sekaligus digunakan untuk memantau perkembangan maggot.
Setelah melalui proses budidaya, maggot basah dapat dimanfaatkan sebagai pakan ayam dan lele.
Sebagian maggot juga dikeringkan dan dapat dijual.
Sementara itu, residu bekas penguraian atau kasgot dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman.
Menurut keterangan sekolah yang diberitakan TIMES Indonesia, inovasi tersebut diklaim mampu mereduksi hingga 90 persen sampah organik harian sekolah dan mengurangi kebutuhan pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir.
Fitur Aplikasi untuk Memantau Pengelolaan Limbah
Smart BSF Eco Edu tidak hanya digunakan sebagai tempat pencatatan.
Aplikasi tersebut memiliki sejumlah fitur yang menghubungkan aktivitas pengelolaan sampah, budidaya maggot, dan pembelajaran siswa.
Salah satunya adalah MBG Waste Tracker.
Fitur ini digunakan untuk mencatat volume dan jenis sisa makanan dari program MBG yang masuk setiap hari.
Data tersebut menjadi bagian dari proses pemanfaatan sisa makanan sebagai pakan maggot.
Ada pula Dashboard Monitoring Harian yang berfungsi memantau perkembangan siklus hidup maggot, kondisi media, suhu, serta estimasi biomassa secara berkala.
Dengan pencatatan digital, aktivitas budidaya dapat dipantau berdasarkan data yang dimasukkan ke sistem.
Aplikasi ini juga menyediakan Modul Edukasi Interaktif. Materinya mencakup siklus hidup BSF, proses biokonversi sampah organik, serta materi yang dapat dikaitkan dengan pembelajaran Kurikulum Merdeka.
Selain itu, tersedia fitur Laporan Otomatis untuk membantu sekolah mengevaluasi efektivitas penguraian sisa makanan dalam periode tertentu.
Teknologi Menjadi Media Pembelajaran Siswa
Pemanfaatan aplikasi membuat kegiatan pengelolaan limbah tidak berhenti pada aktivitas kebersihan.
Siswa dapat terlibat langsung dalam pemilahan sisa makanan, budidaya maggot, pencatatan data, hingga pemanfaatan hasil pengolahan.
Kepala SMPN 1 Sumberpucung Suparianto menyebut keterlibatan siswa diharapkan dapat mendukung keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan literasi digital.
Kegiatan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kepedulian siswa terhadap lingkungan.
Pendekatan seperti ini membuat isu sampah lebih mudah dipelajari melalui pengalaman nyata.
Siswa tidak hanya menerima penjelasan mengenai lingkungan di ruang kelas, tetapi melihat secara langsung bagaimana sisa makanan dapat masuk ke dalam proses pengolahan dan menghasilkan produk yang kembali dimanfaatkan.
Potensi Ekonomi Sirkular dari Sisa Makanan
Pengolahan sisa MBG melalui budidaya maggot juga memperkenalkan konsep ekonomi sirkular di lingkungan sekolah.
Sisa makanan yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah diarahkan menjadi bahan untuk menghasilkan maggot dan kasgot.
Maggot dapat dimanfaatkan sebagai pakan, sedangkan kasgot dapat digunakan sebagai pupuk tanaman. Sebagian maggot yang telah dikeringkan juga memiliki peluang untuk dijual.
Dengan demikian, rangkaian tersebut memperlihatkan bagaimana limbah organik dapat memiliki nilai guna setelah melalui proses pengolahan.
Baca Juga : MTs Almaarif 01 Singosari Tingkatkan Daya Saing Pendidikan di Era Digital
Laporan akhir mengenai strategi pengelolaan sisa pangan MBG juga mencantumkan budidaya BSF atau maggot sebagai salah satu pilihan pengolahan sisa pangan di tingkat sekolah.
Pendekatan tersebut dapat dilakukan secara mandiri oleh sekolah yang memiliki kapasitas dan komitmen, maupun melalui kemitraan dengan pihak pengelola.
Inovasi Smart BSF Eco Edu menunjukkan bahwa pengelolaan sisa makanan MBG dapat ditempatkan sebagai bagian dari pendidikan lingkungan dan pemanfaatan teknologi.
Pengembangan berikutnya dapat diarahkan pada penyempurnaan sistem monitoring, peningkatan keterlibatan siswa, serta penerapan model serupa di sekolah lain dengan menyesuaikan kondisi dan kapasitas masing-masing secara bertahap dan sesuai kebutuhan sekolah.
Sumber data yang digunakan:
- TIMES Indonesia – Guru SMP di Malang Kembangkan Aplikasi Olah Sisa MBG Jadi Pakan Maggot — sumber utama mengenai Smart BSF Eco Edu, proses pengolahan, fitur aplikasi, serta keterangan dari pihak sekolah.
- Laporan Akhir Strategi Pengelolaan Sisa Pangan Program MBG — referensi pendukung mengenai opsi pengelolaan sisa pangan MBG melalui budidaya BSF/maggot dan pendekatan ekonomi sirkular.











