Setiap generasi memiliki bahasanya sendiri, dan Gen Z menghadirkan istilah baru yang kini ramai digunakan, salah satunya “skena.” Kata ini semakin populer di media sosial dan memicu diskusi luas, terutama di kalangan anak muda. Namun, apa sebenarnya arti dari “skena,” dan bagaimana istilah ini terbentuk?
Makna dan Asal-Usul Istilah Skena
Istilah “skena” belum tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tetapi penggunaannya telah meluas di masyarakat. Menurut Ganjar Harimansyah, Kepala Balai Bahasa Sulawesi Selatan, skena merupakan akronim dari tiga kata: sua (berjumpa), cengkerama (bersenang-senang), dan kelana (berjalan tanpa tujuan).
“Secara fenomena, skena merujuk pada kumpulan orang yang senang nongkrong, berbincang, dan jalan-jalan bersama,” jelas Ganjar. Kata ini juga memiliki kemungkinan sebagai serapan dari bahasa Inggris scene, yang berarti lingkup kegiatan atau kancah aktivitas.
Perkembangan Bahasa Gaul di Kalangan Anak Muda
Bahasa gaul atau slang seperti skena berkembang pesat karena kebutuhan komunikasi nonformal yang dinamis. Pada era 1980-an, bahasa ini dikenal sebagai prokem, terutama di wilayah perkotaan.
“Bahasa gaul sering terinspirasi dari bahasa asing atau daerah yang dimodifikasi sesuai tempat tinggal penuturnya,” tambah Ganjar. Kini, skena juga digunakan untuk mendeskripsikan komunitas seni atau tren budaya tertentu, seperti musik indie dan mode alternatif.
Baca Juga :
Tempat Makan Anak Skena di Malang yang Wajib Dikunjungi
Polisi Skena dan Subkultur Alternatif
Skena juga merujuk pada komunitas yang menganggap dirinya eksklusif dan berbeda dari arus utama. Tren ini sering diasosiasikan dengan seni dan musik non-mainstream.
“Polisi skena cenderung mengkritik budaya pop dan menganggap preferensi mereka lebih autentik,” ungkap Ganjar. Istilah ini akhirnya digunakan secara sarkastik untuk menggambarkan mereka yang terlalu kritis terhadap selera orang lain.
Baca Juga :













