Infomalangcom – Bupati Malang Sanusi mendorong gerakan penanaman pohon sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus mengantisipasi risiko banjir bandang dan tanah longsor.
Langkah tersebut menempatkan penghijauan sebagai investasi jangka panjang yang membutuhkan keterlibatan pemerintah dan masyarakat.
Penanaman Pohon Jadi Strategi Antisipasi Banjir Bandang
Kegiatan penanaman pohon dilakukan Bupati Malang bersama berbagai pihak di Lembah Ken Arok, kawasan Gunung Katu, Desa Wadung, Kecamatan Pakisaji, pada 11 Januari 2026.
Menurut BPBD Kabupaten Malang, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pelestarian lingkungan dan mitigasi bencana. Sanusi menilai penghijauan perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Gunung Katu juga disebut memiliki fungsi sebagai daerah resapan air dan penyangga lingkungan sekitar.
Karena itu, menjaga vegetasi di kawasan tersebut dinilai penting untuk mendukung kelestarian sumber mata air serta mengurangi risiko bencana yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan.
Kabupaten Malang Memiliki Wilayah Rawan Bencana
Kabupaten Malang memiliki wilayah dengan karakter geografis beragam, mulai dari kawasan dataran hingga perbukitan.
Kondisi tersebut membuat pengelolaan lingkungan perlu memperhatikan potensi bencana hidrometeorologi, terutama ketika hujan berintensitas tinggi terjadi.
Risiko banjir dan longsor tidak hanya berkaitan dengan curah hujan. Kondisi tutupan lahan, kemiringan wilayah, kemampuan tanah menyerap air, serta kondisi daerah aliran sungai turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Karena itu, penanaman pohon sebaiknya ditempatkan pada lokasi yang memiliki kebutuhan konservasi sesuai hasil pemetaan dan kajian lapangan.
Pohon Membantu Menjaga Fungsi Resapan Air
Vegetasi memiliki peran ekologis dalam menjaga kondisi tanah dan tata air.
Penelitian mengenai vegetasi riparian menunjukkan bahwa perubahan lahan dapat mengurangi kapasitas resapan, sementara berkurangnya vegetasi di kawasan riparian dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko banjir.
Akar tanaman membantu memperkuat struktur tanah, sedangkan tutupan vegetasi dapat memperlambat aliran air permukaan.
Namun, penghijauan tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya solusi untuk banjir bandang. Pengelolaan sungai, drainase, tata ruang, kesiapsiagaan, dan sistem peringatan dini tetap diperlukan.
Penanaman Pohon Perlu Dilakukan di Kawasan Strategis
Program penghijauan perlu mempertimbangkan lokasi dan kondisi tanaman.
Kawasan hulu, daerah tangkapan air, lereng, serta lahan yang mengalami degradasi dapat menjadi bagian dari prioritas berdasarkan kebutuhan setempat.
Pemilihan jenis pohon juga harus disesuaikan dengan karakteristik tanah dan lingkungan.
Setelah penanaman, tanaman membutuhkan perawatan agar mampu tumbuh dan memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang.
Pemantauan menjadi penting supaya program tidak berhenti ketika kegiatan penanaman selesai.
baca juga : Khofifah Salurkan Bansos Rp7,05 Miliar untuk Warga Kabupaten Malang
Mitigasi Banjir Bandang Membutuhkan Langkah Terpadu
Penanaman pohon perlu berjalan bersama langkah mitigasi lainnya.
Pemerintah dapat memperkuat pemeliharaan sungai dan saluran air, memperhatikan kondisi daerah aliran sungai, serta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat di kawasan rawan.
Kajian mengenai DAS Bajulmati menunjukkan bahwa perubahan tutupan lahan berkaitan dengan proses hidrologi, erosi, dan sedimentasi.
Temuan ilmiah tersebut memperlihatkan pentingnya pengelolaan daerah aliran sungai secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada satu tindakan.
Masyarakat Dilibatkan dalam Penghijauan
Kegiatan di Gunung Katu melibatkan pemerintah daerah, perangkat wilayah, relawan, komunitas, mahasiswa, dan unsur terkait.
Pelibatan tersebut penting karena keberhasilan penghijauan membutuhkan perawatan setelah bibit ditanam.
Masyarakat sekitar dapat berperan menjaga tanaman, mencegah kerusakan vegetasi, serta ikut mengawasi kawasan lingkungan.
Edukasi mengenai konservasi juga dapat membantu membangun kebiasaan menjaga hutan, sumber air, dan lahan di sekitar permukiman.
Menjaga Hutan dan Daerah Aliran Sungai
Pelestarian hutan dan daerah aliran sungai menjadi bagian penting dalam mitigasi berbasis lingkungan.
Tutupan vegetasi yang terjaga membantu mempertahankan fungsi ekologis kawasan, sementara kerusakan lahan dapat memengaruhi aliran air dan meningkatkan potensi erosi.
Karena itu, gerakan penanaman pohon perlu ditempatkan dalam kerangka pengelolaan lingkungan yang lebih luas.
Perlindungan kawasan, pengawasan penggunaan lahan, serta pemeliharaan sungai perlu berjalan beriringan.
Evaluasi Program Menjadi Kunci Keberlanjutan
Keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang ditanam.
Pemerintah perlu memantau tingkat pertumbuhan tanaman, kondisi lokasi, serta manfaat lingkungan dalam jangka panjang.
Langkah ini juga perlu didukung dengan informasi kebencanaan yang mudah dipahami warga.
Ketika hujan lebat berlangsung, masyarakat di kawasan berisiko perlu mengetahui kondisi lingkungan, jalur evakuasi, serta arahan resmi dari pemerintah.
Kesiapsiagaan tersebut penting karena mitigasi tidak hanya dilakukan sebelum bencana, tetapi juga melalui kemampuan merespons keadaan secara cepat.
Dengan demikian, penghijauan dapat berjalan bersama peningkatan kesadaran masyarakat dan penguatan sistem pengurangan risiko bencana di tingkat lokal secara konsisten.
Evaluasi berkala dapat membantu menentukan lokasi penghijauan berikutnya dan memperbaiki metode pelaksanaan.
Dengan pendekatan tersebut, gerakan penanaman pohon yang didorong Sanusi dapat menjadi bagian dari strategi berkelanjutan untuk menjaga lingkungan Kabupaten Malang dan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi risiko banjir bandang.
baca juga : Pemkab Malang Rencanakan Drainase Baru untuk Antisipasi Banjir














