1 kali dibaca
Rumah 1923 di Ujung Gang
MALANG, infomalang – Di balik deretan toko dan kafe Jalan Basuki Rahmat, ada gang yang membawa pejalan kaki mundur seratus tahun. Begitu melewati loket tiket Rp5.000, pengunjung masuk ke lorong sempit Kampoeng Heritage Kajoetangan yang diapit rumah-rumah lama.
Salah satu tempat yang kerap membuat langkah wisatawan terhenti adalah rumah keluarga Rudi. Rumah itu dibangun sekitar 1923 dan diwariskan turun-temurun, kata Rudi kepada JatimTIMES pada Sabtu (27/12/2025). Menurut dia, strukturnya masih sama sejak dulu; hanya atapnya yang diganti karena dimakan usia, dengan bentuk tetap mengikuti aslinya.
Kini rumah itu dikenal sebagai Kopi Hamur Mbah Ndut. Nama itu diambil dari panggilan akrab ibunya di kampung. Kopi tanpa gula disajikan dalam gelas-gelas lawas peninggalan keluarga.
Kampung Tua di Jalur Menuju Alun-Alun
Kajoetangan bukan kampung yang tiba-tiba tua. Pada masa kolonial Belanda, kawasan ini menjadi jalan pusat yang menghubungkan arah utara dengan alun-alun Kota Malang, tulis kajian genius loci tentang kampung ini. Laman desa wisata Kementerian Pariwisata menyebut kawasannya sudah dikenal sejak 1920.
Jejaknya masih tersisa di dalam kampung. Jurnal ITN Malang mencatat sekitar 60 rumah peninggalan kolonial yang teridentifikasi, ditambah titik lain seperti pasar krempyeng, irigasi Belanda, saluran air, dan tangga seribu. Semua rumah itu masih ditinggali warganya.
Namun, tidak semuanya bertahan. Radar Malang mencatat jumlah bangunan bernilai heritage di kampung ini tinggal sedikit seiring berjalannya waktu. Kajian Universitas Negeri Malang juga menyebut bangunan kolonial kian tergerus rumah baru yang tidak lagi memakai gaya indische.
Pada 22 April 2018, Pemkot Malang meresmikan kampung ini sebagai kampung wisata heritage. Sejak itu, warga sendiri yang mengelolanya lewat Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Dari Mergi Lepen Sampai Makam Mbah Honggo
Pintu masuk yang paling mudah ditemukan ada di Jalan Jenderal Basuki Rahmat Gang IV, alamat yang dipakai laman resmi kampung dan liputan Suara Malang pada Mei 2026. Kampung ini sebenarnya bisa dimasuki dari beberapa arah. Kompas.com mencatat tiga akses utama, yakni koridor Kayutangan di Jalan Basuki Rahmat, koridor Talun di Jalan Arif Rahman Hakim, dan akses di Jalan Semeru. Gang VI di Jalan Basuki Rahmat juga kerap dipakai pengunjung.
Di loket, pengunjung membayar Rp5.000 dan menerima peta rute serta kartu pos bergambar bangunan lawas, tulis Suara Malang. Di sejumlah bangunan bersejarah, pengelola memasang kode QR yang bisa dipindai untuk membaca riwayat bangunan, pemilik, hingga fungsinya di masa lalu. Kajian pada 2019 mencatat 32 titik yang bisa disinggahi di dalam kampung.
Rumah 1870 disebut sebagai bangunan tertua di Kampung Kajoetangan, menurut laman resmi Pemkot Malang. Rumah ini menjadi panggung utama Festival Kerontjong Nang Kajoetangan pada Oktober 2021. Menurut Suara Malang, pemiliknya kini memanfaatkan rumah itu sebagai toko jamu tradisional.
Rumah Namsin bergaya Nieuwe Bouwen. Suara Malang menulis rumah ini dibangun warga Belanda bernama Van Doorene pada awal abad ke-20, lalu pada 1924–1940 menjadi toko mesin jahit Singer. Tak jauh dari sana ada Rumah Jengki dengan atap miring asimetris yang kini menjadi latar foto favorit.
Mergi Lepen menjadi salah satu titik paling ramai untuk berfoto. Daya tariknya adalah mural dan kali kecil yang membelah jalan kampung, seperti digambarkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 2023.
Terowongan Semeru menyimpan kisah masa perang. Menurut Suara Malang, warga pribumi pernah memakai terowongan bawah tanah ini sebagai tempat bersembunyi saat Agresi Militer Belanda II.
Di dalam kampung juga ada makam Mbah Honggo Kusumo yang dikeramatkan warga. Jurnal ITN Malang menyebutnya pembantu perjuangan Pangeran Diponegoro, sementara Suara Malang menulis ia memilih Malang sebagai tempat pengasingan setelah Perang Diponegoro berakhir pada 1830 dan menyebarkan ajaran Islam di Kajoetangan. Pada 2016, makam inilah yang semula diusung warga RW 9 untuk konsep wisata religi, tetapi rencana itu kandas karena tanah makam masih milik ahli waris, tulis LPM Kavling 10.
Titik lain yang kerap disinggahi antara lain kuburan tandak, langgar tua, tangga seribu, galeri, dan mural, menurut catatan Radar Malang. Pagi hari, Pasar Krempyeng ramai oleh kuliner tradisional warga, dan menurut Suara Malang pasar ini rutin menghadirkan pertunjukan Topeng Malang serta musik keroncong sejak direvitalisasi pada 2019. Di dekat pintu Jalan Arif Rahman Hakim, ada Depot Es Taloen yang menyajikan es berisi dawet, pacar cina, dan cincau.
Bagi rombongan, Pokdarwis menyediakan paket wisata edukasi Rp25.000 dengan minimal 10 peserta, sudah termasuk minuman sambutan, kudapan, dan pendamping, menurut Suara Malang. Tersedia pula paket foto pranikah Rp200.000.
Warga yang Menghidupkan Lorong
Kampung wisata ini dirintis Mila bersama sembilan rekannya, menurut Ketik.com. Selepas kuliah, ia diamanati ketua RW untuk menyusun wisata di kampungnya. Di masa awal, setiap ada orang lewat, mereka berdiri dan mempersilakan masuk. Tak sekali dua kali, anggota Pokdarwis ingin berhenti.

Kini lorong-lorong itu dipenuhi usaha warga. Pada akhir Desember 2025, Mila menyebut 254 unit UMKM beroperasi di dalam kampung, dari minuman segar hingga makanan berat, menurut JatimTIMES.
Rudi termasuk warga yang melihat peluang itu sejak 2018. Awalnya, rumahnya hanya disiapkan sebagai tempat duduk dan minum bagi pengunjung yang lelah berkeliling. Konsep tempat mampir itulah yang kemudian tumbuh menjadi Kopi Hamur Mbah Ndut.
Kerja warga itu diakui secara nasional. Kampung ini meraih juara 5 Anugerah Desa Wisata Indonesia 2023 kategori digital dan kreatif. Pada 5 Desember 2025, Pokdarwisnya dinobatkan sebagai Juara 1 Pokdarwis tingkat nasional dalam Wonderful Indonesia Award 2025.
Sebelum Berkunjung
Lokasi: Jalan Jenderal Basuki Rahmat Gang IV, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Akses lain lewat Gang VI, Jalan Arif Rahman Hakim (koridor Talun), dan Jalan Semeru.
Tiket: Rp5.000 per orang, termasuk peta rute dan kartu pos. Paket edukasi Rp25.000 dengan minimal 10 peserta.
Jam buka kampung: Setiap hari, Senin sampai Minggu, pukul 07.00–18.30 WIB (Pokdarwis, laman Sisparnas Kemenparekraf).
Koridor Kayutangan: Tanpa tiket dan bisa diakses hingga tengah malam (Kumparan).
Parkir: Gedung Parkir Kayutangan, beroperasi sejak 7 Januari 2026 (Dishub Kota Malang).
Waktu ramai: Hari kerja rata-rata di atas 1.000 orang; akhir pekan bisa dua kali lipat (Forum Pokdarwis, Oktober 2026).
Jam itu berlaku untuk lorong kampung bertiket, sedangkan koridor Jalan Basuki Rahmat di depannya tetap bisa dinikmati hingga malam. Datanglah pagi bila ingin lebih lega dan sempat melihat Pasar Krempyeng mulai ramai. Siapkan uang tunai karena sebagian besar warung di dalam kampung belum menerima pembayaran digital, tulis Suara Malang.
Kampung ini adalah permukiman yang masih dihuni. Saat berfoto di depan rumah warga, sebaiknya minta izin lebih dulu dan jaga suara di lorong.
Jejak Sejarah yang Masih Dihidupi
Yang membuat Kajoetangan berbeda dari museum adalah penghuninya. Rumah 1923 milik keluarga Rudi masih rumah keluarga, makam Mbah Honggo masih dikeramatkan, dan lorong-lorongnya masih menjadi jalan pulang bagi warga.
Pengunjung datang untuk melihat masa lalu. Yang mereka temui ternyata kampung yang masih hidup hari ini.
Editor: Handoyo Tejo Wasito
Place Interest
Place Interest
Ekonomi
Human Interest
Pemerintahan
Malang In Depth