infomalangcom – Kolaborasi antara Universitas Negeri Malang (UM) dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur kembali diperkuat pada 2026 melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS).
Langkah tersebut diarahkan untuk memperluas kontribusi perguruan tinggi dalam meningkatkan mutu pendidikan sekaligus menjawab kebutuhan satuan pendidikan di Jawa Timur.
Penandatanganan PKS berlangsung di Ruang Sidang Senat, Graha Rektorat Lantai 9 UM, pada Kamis, 24 September 2026.
Kegiatan itu dirangkaikan dengan Focus Group Discussion (FGD) bersama Kepala Cabang Dinas Pendidikan wilayah Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang.
Baca juga: 2026 Prabowo Matangkan Rencana Kuliah Gratis, Pendidikan Tinggi Jadi Sorotan
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai mengatakan kerja sama tersebut diharapkan menghasilkan program yang memberikan dampak langsung kepada satuan pendidikan.
Menurutnya, kolaborasi tidak cukup berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi perlu diwujudkan melalui program yang dapat dirasakan sekolah, guru, kepala sekolah, serta tenaga kependidikan.
Dalam kerja sama tersebut terdapat tiga fokus utama, yaitu Universitas Negeri Malang Mengajar, penguatan tata kelola pendidikan, serta riset dan inovasi.
Ketiga bidang itu menjadi ruang bagi UM dan Dinas Pendidikan Jatim untuk menggabungkan sumber daya akademik dengan kebutuhan pendidikan di lapangan.
Kolaborasi UM dan Disdik Jatim Fokus pada Mutu Pendidikan
Melalui program Universitas Negeri Malang Mengajar, UM diharapkan membantu menciptakan pembelajaran yang lebih menarik. Perguruan tinggi juga dapat mendukung guru dalam mengembangkan metode pengajaran yang menyesuaikan karakteristik peserta didik dan perkembangan teknologi.
Kerja sama tidak hanya menyentuh proses pembelajaran. Penguatan administrasi pendidikan, pengelolaan sekolah, serta peningkatan kapasitas kepala sekolah dan tenaga kependidikan turut menjadi bagian dari agenda yang disiapkan.
Aries juga mendorong guru dan kepala sekolah menghasilkan inovasi berdasarkan kebutuhan nyata di lingkungan pendidikan. Pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), menjadi perhatian.
Baca juga: Daratan Baru Seluas 32,8 Hektare Muncul di Anak Krakatau, Ini Penjelasannya
Menurut Aries, penggunaan AI perlu dilakukan secara kritis dan diarahkan menjadi bagian dari proses inovasi yang terukur, bukan sekadar digunakan untuk menghasilkan konten.
Sementara itu, Wakil Rektor I UM Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal menegaskan komitmen kampus untuk menjadikan kerja sama tersebut sebagai program bersama yang berdampak terhadap peningkatan kualitas pendidikan.
UM juga memperkenalkan pengembangan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) sebagai alternatif bagi guru yang ingin meningkatkan kualifikasi pendidikan tanpa meninggalkan tugas mengajar.
Penguatan kapasitas guru sebelumnya juga menjadi perhatian Dinas Pendidikan Jatim. ANTARA melaporkan pada Juni 2026 bahwa Dindik Jatim mendorong guru memperkuat kompetensi dan kreativitas menjelang tahun ajaran 2026/2027.
Aries menyebut guru perlu terus belajar dan beradaptasi menghadapi perkembangan teknologi, perubahan karakter belajar siswa, serta tuntutan metode pembelajaran yang lebih menarik.
Dalam konteks tersebut, kerja sama dengan perguruan tinggi dapat menjadi salah satu ruang pengembangan kompetensi.
Pengetahuan akademik, pengalaman riset, serta sumber daya perguruan tinggi dapat dipertemukan dengan kebutuhan sekolah untuk menghasilkan program yang lebih relevan.
Aspek riset dan inovasi juga memberikan ruang bagi sekolah untuk mengembangkan solusi berdasarkan persoalan pendidikan yang dihadapi.
Dengan pendekatan tersebut, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti sebagai kajian akademik, tetapi dapat menjadi bahan pengembangan praktik pembelajaran dan pengelolaan pendidikan.
UM menyebut kolaborasi tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam memperluas akses pendidikan berkualitas dan memperkuat kapasitas pendidik.
Pelibatan sekolah negeri dan swasta juga diarahkan untuk membangun ekosistem pendidikan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi serta kebutuhan masyarakat.
Pada 2026, penguatan inovasi pendidikan juga terlihat melalui kegiatan East Java Innovation in Education Summit (EJIES).
Balai Bahasa Jawa Timur mencatat 24.727 guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan mendaftar dalam kegiatan tersebut, dengan 19.765 karya inovasi yang masuk. Dari jumlah itu, 25 inovasi terbaik dipilih untuk mendapatkan apresiasi.
Data tersebut menjadi gambaran adanya aktivitas inovasi dari tenaga pendidikan di Jawa Timur. Namun, keberhasilan kerja sama UM dan Dinas Pendidikan Jatim tetap akan bergantung pada pelaksanaan program, kesinambungan pendampingan, serta kemampuan menerjemahkan hasil riset menjadi praktik yang bermanfaat bagi sekolah.
Kerja sama ini juga membuka peluang penguatan hubungan antara sekolah dan perguruan tinggi secara lebih terstruktur.
Pendampingan dapat diarahkan pada kebutuhan guru, pengembangan bahan ajar, pengelolaan sekolah, dan pemanfaatan hasil penelitian.
Dengan demikian, kolaborasi diharapkan mampu menjembatani kebutuhan praktis pendidikan dengan pengetahuan akademik yang dimiliki UM.
Fokus tersebut dapat menjadi dasar evaluasi untuk mengukur hasil program dan menentukan pengembangan kerja sama berikutnya secara berkelanjutan.
Dengan PKS yang diperkuat pada September 2026, UM dan Dinas Pendidikan Jatim memiliki ruang untuk memperluas sinergi melalui pengajaran, tata kelola, riset, dan inovasi.
Tahap berikutnya menjadi penting untuk memastikan kolaborasi menghasilkan program konkret dan memberikan dampak berkelanjutan terhadap mutu pendidikan di Jawa Timur.














